Rabu, 09 April 2008
Catatan Kecil Tukang Ojek
Seperti hari-hari biasa Senin sampai dengan Jum'at....kegiatan menjemput anak. Pada hari itu waktu sudah menunjukkan pukul 11.20 ...matahari bersinar terik, aku hanya membatin "mungkin kemarau sudah mulai". Aku beserta temen yang anaknya merupakan sahabat anakku dan kebetulan sekelas...melangkah dengan tergesa-gesa serta menahan rasa panas di kulit...walau kami telah berjilbab.
Aku lihat dari kejauhan anakku dan temen-temennya bermain kejar-kejar...sepertinya mereka melepas semua beban pelajaran yang telah diterima sejak pukul 7 pagi hingga pukul 11.15. Aku membiarkan anakku bermain sepuasnya. Tidak terasa azan sholat Zuhur terdengar dari mesjid yang tidak jauh lokasinya dari sekolah..."adek..pulang yok...udah siang!" panggilku segera. Syukurnya dia nurut jadi aku tidak perlu negosiasi waktu lagi. "Ma, kita pulang naik ojek yah?" tanya anakku..."ya, kita pulang naik ojek!" jawabku.
Hari bertambah panas....waktu sudah menunjukkan pukul 12.oo matahari tepat di atas kepala kami. Setelah mendapat ojek yang biasa mangkal di depan sekolah...segera kami bergegas pulang. Tidak biasanya ternyata tukang ojek ini cukup enak di ajak ngobrol sehingga perjalanan pulang tidak menjemukan, seperti biasa aku hanya sebagai pendengar yang baik..."Bu, langsung pulang?" tanya tukang ojek. "Ya, pak...capek seharian nunggu anak di sekolah.." jawab saya. "Ya, bu saya sebenernya nunggu anak yang biasa langganan saya tapi lama banget...nonggolnya eh pas di cari anaknya main dulu...!" katanya dengan logat betawi yang kental. "Gitu tu kalo anak kagak dapet perhatian orang tua. Tuh, anak kalo main bisa sampe sore.....Pernah bu, saya nganter pulang dia maghrib..." lanjut tukang ojek. "Kok, bisa sampe maghrib. Anaknya kelas berapa, perempuan atau lelaki trus orang tuanya kemana apa engga dimarahi" tanya saya karena saya heran kok...bisa?
"Anaknya perempuan bu, kelas 5. Yah...bu pas saya anter orang tuanya pada belum pulang. Sibuk..kerja. Jadi dia sama kakaknya berdua aja sama pembantu. " lanjut si tukang ojek. "Tuh, anak bu susah banget di atur. Kalo mau jajan uangnya kurang minta ke saya bu. Yah bangsa 100 ribu mah saya sanggup tapi kalo...udah di atas 100 ribu saya mah kagak sanggup". "Dia langganan saya sejak TK...." kata tukang ojek.
Pada saat si tukang ojek cerita...aku hanya dapat membayangkan dan membandingkan kehidupan mereka....dengan anak-anakku. Terkadang anak-anakku kesal jika ku ingatkan mereka untuk pulang jika maghrib menjelang. Bagaimana dengan mereka.....tidak adakah yang mengingatkan...untuk displin waktu.
Aku tidak menyalahkan mereka karena mereka masih anak-anak...hanya saja sampai kapan mereka mengerti kalo bukan dari kita sebagai orang tua untuk mulai mengingatkan.
"...................Hamba sadar tiada yang lebih berharga ketimbang anak. Tapi tanpa sadar hamba hidup dengan sifat dan sikap yang membahayakan anak hamba sendiri, dan membuatnya seakan tidak berharga. Yakni ketika hamba penuhi kebutuhan dan keinginan hamba dengan cara yang tidak Engkau sukai. Ya Allah, penuhi kebutuhan hamba dan puaskanlah keinginan hamba dengan apa-apa yang dari sisi-Mu. Ampunilah kesalahan hamba yang lalu dan yang akan datang. Amin " (dikutip dari Kun Fayakun, Ust. Yusuf Mansur, hal. 180. Apa yang lebih berharga ketimbang anak).
Aku dan suami menyadari kami sebagai team work di rumah tangga masih banyak kekurangan dalam membimbing anak-anak yang merupakan amanah Allah kepada kami. Kami hanya dapat berdoa di setiap munajat kami kepada Sang Khalik...dan memumpuk harapan sepanjang usia mereka.....Amin
Langganan:
Postingan (Atom)
