Hanya karena kami kurang mengenal-Mu, lantas kami berjalan dalam kesendirian. Sendiri dalam menjalani hidup dan kehidupan, sendiri dalam mengatasi kesulitan hidup dan kehidupan.
Andai kami mengenal-Mu dengan baik, sebaik pemahaman hari ini dan sebaik yang Engkau pahamkan kepada kami, tentu kami tidak akan berpaling dari diri-Mu dan senantiasa minta ditemani.................
(disadur dari Kun Fayakuun, Selalu Ada Harapan di Tengah Kesulitan; Ust. Yusuf Mansur,hal: 118, Wisata Hati).
Syukurlah, keinginan untuk bercerita dan berbagi akhirnya tercapai. Semoga blog ini bermanfaat dan bisa memberi inspirasi bagi para bunda-bunda.
Hari-hari seorang ibu, isteri sepenuhnya untuk keluarga, tidak terbayang sama sekali bagi saya pada saat jejak kaki ini memasuki gerbang pernikahan. Awal-awal berkeluarga, hari demi hari di bagi antara kerja kantor dan mengurus rumah.....tanpa keluh terucap walau ada rasa bosan, jenuh.
Namun, ketentuan Yang Maha Memiliki lebih bijaksana bagi kehidupan saya...walau rasa cemas, takut membayang di pikiran bahwa kehidupan 24 jam hanya untuk keluarga. Dampak rasa itu, saya rasakan tanpa disadari.
Titik balik itu dimulai dengan sakitnya ke dua jagoan kecilku (usia pada saat itu yang pertama 3,7 tahun dan yang kedua 2 tahun). Sebenarnya tanda-tanda keresahan anakku sudah ada tetapi karena kesibukan atau pikiran tidak mempermasalahan keresahan itu, hal itu aku anggap "rewel"nya mereka. Hati ini mulai bertanya pada saat anak pertamaku "meminta" ikut ke kantor, sebelumnya hal tersebut tidak terjadi. Kemudian gerakan membersihkan dot botol susunya (seperti sesuatu menjijikan baginya). Sekali lagi, aku tidak memperdulikan...atau menyepelakan signal mereka.
Puncaknya, anakku ke dua masuk rumah sakit dan anak pertama tetap sakit walau obat itu telah habis. Di sini, semua terbongkar dari cerita tetangga yang telah melihat bagaimana perlakuan pengasuh anak pertamaku kepada jagoanku. Ternyata sudah lebih 5 bulan, anak pertamaku diperlakukan semena-mena, dibentak sekuat anakku teriak sekuat itu pula pengasuh itu teriak, dimarahi, kepanasan diterik matahari pukul 11.30 ketika pulang sekolah karena menunggu pengasuh ini pacaran dengan penjaga sekolah dimana anakku sekolah, dan lain-lain. Setelah mengetahui keadaanya sebenarnya akhirnya aku memberhentikan pengasuh itu. Pengasuh itu usianya 30 tahun yang telah memiliki anak dan hampir bercucu. Efeknya, anakku stress hal ini aku ketahui ketika dia mengikuti senam di TK nya. Semua temen-temennya senam hanya dia yang terpaku sambil gemetar ketakutan......, ketika orang datang bertamu dia sembunyi dibalik tirai jendela..dengan pancaran mata tanpa binar.
Aku hanya menangis...melihat seperti itu. Aku dan suami melakukan terapi sendiri dengan fokus membangkitkan percaya diri dia. Bulan demi bulan berlalu, syukurlah akhirnya dia bisa bangkit kembali...dan kini dia telah berusia 9 tahun (kelas 3 SD), prestasi sekolah sangat membanggakan sejak kelas satu SD senantiasa masuk 1o besar di kelas.
Pada saat ini, aku senantiasa mengingatkan kepada ibu-ibu yang bekerja dilingkungan sekolah anak, rumah atau saudara cobalah untuk mendengar setiap signal yang dimereka katakan tanpa mereka mampu katakan apa yang ada dihati mereka.
Setelah menjalani kehidupan sebagai ibu rumah tangga sejak 2003 sampai saat ini, ternyata jauh dari dugaan selama ini....menjadi seorang ibu lebih berat dari pada kerja di kantor. Karena sebagai ibu, kita senantiasa siap untuk menjadi guru, isteri, sebagai petugas antar jemput (istilah teman menjadi supir atau tukang ojek bagi mereka), security, perawat...akh tapi semua kelelahan itu hilang jika melihat mereka tertawa, bermain dan berprestasi.
Aku hanya berharap semua ini hanya Tuhan yang membalas...untuk saat ini serta yang akan datang. Amin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar